Hidden detective chapter #1


Hidden Detective

Chapter 1

image

Author: Ripah46

Main Cast: Kim bum, Kim so eun.

Other Cast: Gong hyo jin, Jung so min, jung il woo, dll.

Genre: Crime, romance, thriller.

Disclaimer: semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik,pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

Chapter 1: Ambition

.

.

.

.

“Ada pepatah lama yang aku percayai, bahwa kalau anda mengabaikan sesuatu yang dianggap tidak mungkin terjadi, pada kenyataannya, bagaimanapun mustahilnya, justru itulah yang terjadi.”

~Sherlock Holmes

.

.

.

Chapter 1

Kim so eun memandang ayahnya dengan garang, melipat kedua tangannya dan berdiri dengan angkuh. Ia akan menjadi gadis keras kepala untuk saat ini, untuk memenangkan perdebatan dengan ayahnya memang haruslah di lakukan seperti itu, tapi sekarang ayahnya jauh lebih kuat.

“Oh ayah, demi tuhan aku tak ingin pindah!” Ucap so eun dengan penuh frustasi.

“Ini demi ayah.”

“Bagaimana dengan keselamatan ayah?” so eun berusaha mencari alasan. “dan aku tak akan membiarkan ayah tinggal sendirian!”

“Ayah akan baik-baik saja, sungguh. Tak usah sekhawatir itu.”

“Tapi Kenapa tidak kita berdua saja yang pindah? Pergi bersama bukankah lebih baik?”

“Tidak. ayah akan menyelesaikan pekerjaan ayah dulu, setelah itu kita tinggal bersama. Pekerjaan ayah sangat penting.”

“Sungguh, ayah, kau luar biasa! Menelantarkan anakmu hanya untuk tugas pentingmu itu!” teriak so eun frustasi. ayahnya memang sangat mencintai pekerjaannya, sampai ia meminta so eun untuk pergi dari korea untuk waktu yang lama. Tapi ayahnya selalu beralasan bahwa inilah yang terbaik untuknya.

“untuk sekali ini saja, kau mau melakukan ini.” Nada suara ayahnya melembut, dan itu sukses membuat so eun merasa bersalah.

“Aku akan meninggalkan teman-temanku disini, Berteman dengan orang asing, menonton pertandingan bola sendirian, memasak hanya untuk-ku sendiri. Dan–” So eun tidak akan ada lagi yang mengajariku teori-teori angka.”

“Tidak akan lama, setelah pekerjaan ayah selesai, ayah akan menjemputmu, dan kita bisa tinggal bersama lagi.”

Kim so eun terdiam lalu menunduk, pertahanan hatinya mulai runtuh dan kekeras kepalaannya sudah hilang, mungkin ia akan berubah menjadi gadis baik lagi, ketika dihadapkan dengan kelembutan hati ayahnya. Karena so eun dan ayahnya mempunyai sikap kekeras kepwlaan yang sama.akhirnya so eun menyerah. “Janji?”

“Tentu saja.”

.

.

.

.

7 tahun kemudian…

Seoul National Hospital

Dr. Gong hyojin berdiri tepat di hadapan so eun , ia menatap so eun dengan lekat dan ekspresi khawatir terukir di wajahnya. Sambil memegang sebuah kotak seukuran kue ulang tahun yang terbuat dari bahan dus yang kuat, ia memikirkan apa yang akan ia katakan.

“Aku yakin, aku tidak apa-apa.” Ucap so eun dengan penuh keyakinan dan mata berbinar.

“Terakhir kali aku perlihatkan padamu, kau menangis seperti orang err… stress. Yeah?”

So eun memutar mata lalu tersenyum meyakinkan, karena sesungguhnya ia sudah muak dengan ingatan itu. “Oh yeah, aku tidak ingat. Kali ini aku sudah siap, karena aku yang memintanya.”

“Baiklah. Ini kuberikan padamu setelah 2 tahun lamanya berada ditanganku, dan Kupikir ini memang waktu yang tepat. Sesuai perintah ayahmu sebelum meninggal dan sekarang kau yang memintanya,” Kata Hyojin sambil memberikan kotak tersebut. “Meskipun aku belum pernah membukanya, tapi aku yakin semua barang didalam nya begitu berharga, jadi jagalah dengan baik.”

“Ya, tentu saja. Terimakasih.”

So eun berpikir mungkin ia tak akan langsung membuka kotaknya, ia butuh sedikit ketenangan.

“Kenapa sekarang kau sangat menginginkannya?” Tanya hyojin, kedua tangannya dilipat dan menyandarkan tubuhnya tepat di tembok yang menghadap kaca luar rumah sakit.

“Ada sesuatu yang sangat menggangu pikiranku,” jawab so eun. “Tepatnya saat aku kembali ke korea dan tinggal di rumahku yang dulu, aku jadi teringat dengan ayah. bagaimanapun juga, pertemuan terakhirku dengannya tidak begitu baik, bahkan aku berselisih dengannya.”

“Apa yang sangat mengganggumu?”

“Soal kematian-nya. Sejak ayah meninggal, aku tak pernah sedikitpun ingin tahu tentang penyebab kematiaanya. Dan sekarang aku hanya ingin mengetahuinya lebih lanjut.”

“Sudahlah, itu hanya akan membuatmu sedih lagi. Jadi, biarkan saja.”

Kim so eun menghela nafas gusar, dan ia meremas tangannya yang berkeringat . Yang ada dipikirannya hanyalah tentang kematian ayahnya.

“Uhm, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu.” so eun mulai berbicara.

“Bicara saja.”

“Ku dengar Dr. Lee pergi ke busan untuk bertugas disana, benarkah?”

“Ya. lalu?”

“Berarti, tempatnya kosong bukan?”

“Ya, aku sedang mencari dokter ahli forensik baru. Karena akhir-akhir ini kasus kejahatan semakin meningkat.”

“Nah! Kebetulan sekali” kata so eun penuh semangat. “Aku mengajukan diri menjadi pengganti dr. Lee, bagaimana?”

“Yang benar saja!” Oh keterkejutan tampak sekali diwajah Hyojin. “Kau tidak berpengalaman dalam hal ini, mana mungkin kau bisa menggantikan dr. Lee semudah itu!”

“Aku berpengalaman. Tentu saja!” So eun bersikukuh. “kau tahu, tahun lalu aku menjadi asisten dr. Watson selama 6 bulan. Itu waktu yang cukup untuk ku mempelajari banyak hal tentang dunia forensik.”

“tapi ini tidak semudah yang kau pikir.”

“Aku tahu, dan kehilangan ayahku juga tak semudah yang ku pikir!”

“Kau tahu betapa menakutkannya menjadi sepertiku?” Gong hyo jin menatap so eun dengan tajam. “Setiap hari berhadapan dengan tubuh dingin, penuh luka, bau menyengat, formalin, darah. Dan lagi tugas dalam bidang ini cukup berbahaya, mungkin akan ada banyak terror yang membuatmu takut, atau mungkin akan ada yang mencoba menculikmu agar kau tutup mulut.”

“Well.. itu memang benar, tapi kau tahu ayahku-kan? Aku sudah belajar banyak darinya, Jadi aku bisa menjaga diri. Dan masalah urus mengurus… uhm mayat… ya aku cukup berani.”

Sedikt bayangan kengerian tubuh dingin melintas dibenak so eun, namun so eun berusaha menepisnya menjauh.

“Sudahlah, jangan mencoba mencari kesulitan. Sudah cukup menjadi Dr. Kim saja, seorang ahli bedah muda yang berbakat dan cantik.” kata Hyojin.

“Hanya beberapa bulan. Sungguh, aku akan menjadi gadis yang berguna.”

“tidak!”

“Kumohon, untuk kali ini saja. Lagi pula untuk 6 bulan kedepan aku akan bebas dari tugas rumah sakit, setelah itu aku akan benar-benar menjadi Dr. Kim yang sesungguhnya. Dan sebagai sepupumu aku sangat bergantung padamu, jadi aku benar-benar memohon padamu.”

“tidak, kim so eun!”

“Ini demi ayahku, kumohon.. Karena aku benar-benar tidak bisa tenang akan hal ini.”

“Polisi yang bertanggung jawab atas ayahmu!”

“Tapi mereka sudah menutup kasus kematian ayahku!” So eun tidak menyerah dan tidak akan .menyerah karena tekadnya sudah bulat.

Gong hyojin terdiam, dan memandang so eun lekat. Dan so eun merasa bibinya itu akan segera menyerah dengan sedikt senyuman miring tersungging dibibirnya.

“Tidak ada yang bertanggung jawab atas kematian ayahku lagi, dan seseorang disana tengah menikmati udara kebebasan setelah membunuh ayahku. Dan itu menyakitiku… Ya, itu sangat menyakitiku.”

“Tapi..”

“Aku mohon, kau juga tahu kemampuanku bukan?”

“kau memang keras kepala. Dan aku selalu menyerah padamu.”

‘Oh yeah dan aku tahu kalau aku menjadi pemenang dalam perdebatan ini.’

Sorak kemengan memenuhi hati dan pikiran so eun dan ini adalah sebuah awal dari segala perjalanan berbahayanya.

“Aku akan segera mengurus surat kepindahanmu, dan mungkin data-data palsumu untuk ku kirim ke polisian. Dan mungkin ini salah satu aksi kriminal eh? Menipu kepolisian.”

“Ya aku tahu, Tapi aku sedang bebas tugas. Mungkin ini bisa di sebut relawan medis forensik hm?” So eun memeluk Hyojin dengan penuh semangat. Oh Kim so eun cukup beruntung memiliki bibi seperti Hyojin ini.

Dokter Hyojin adalah seorang kepala forensik di rumah sakit seoul ia juga bekerja sama dengan kepolisian seoul, jadi ia adalah orang yang akan mengirim so eun menjadi anggota forensik di kepolisian seoul, karena ia sudah dipercaya oleh kepala divisi kriminal di kepolisian.

✿ ✿ ✿ ✿ ✿

Tepat saat so eun memarkirkan mobil sedan BMW hitam miliknya di pelataran yang penuh dengan salju, Ia melihat beberapa mobil polisi yang baru saja datang. Dan beberapa orang terburu-buru keluar dengan memborgol seorang lelaki, yang bisa so eun simpulkan adalah seorang penjahat.

‘Whoa! Ini akan menyenangkan’ batin so eun bersemangat.

So eun mengeratkan jaket parasutnya dan mulai melangkah kearah gedung yang cukup besar dan tinggi dengan tulisan yang cukup besar di depannya. *Seoul Central Intelegence Agency (SCIA) * atau banyak orang menyebutkan kantor kepolisian seoul.

So eun berjalan cepat dengan penuh kehati-hatian karena sepatu kets dan es yang ia injak tidak dapat bekerja sama, mungkin so eun akan tergelincir dengan wajah yang memalukan. Dan seseorang di depan pintu masuk melambaikan tangannya kearah so eun. Oh itu yoona sahabat so eun sedari remaja dulu.

Jadilah so eun terbuburu dan mengabaikan langkahnya dan…

Bughkk….

“Aw!” Dan hal yang tak diinginkanpu terjadi karena kecerobohannya sendiri.

“Bisa ku bantu nona?” seseorang mengulurkan tangannya tepat di hadapan so eun, oh tidak hanya seorang mungkin ada empat pria yang berdiri dihahadapan so eun.

“Ahahaha terimakasih, aku baik-baik saja.” Mencoba berdiri, so eun meraih tangan salah satu pria yang menawarkan bantuan. Lelaki-lelaki ini bertubuh jangkung dengan pakaian serba hitam membuat so eun sedikit terpukau.

“Ayo cepat, jangan membuang waktu untuk wanita ceroboh ini.”

Pria yang berdiri paling depan berbicara dan berlalu begitu saja, dan 3 orang dibelakangnya mengikuti dengan terburu-buru.

‘Err ada juga pria yang menyebalkan!’

“Hey! Apa kau baik-baik saja? Seharusnya kau memakai sepatu booth yang besar! Hahaha” yoona langsung menerjang so eun dengan ejekannya.

“Ya, itu sangat memalukan!”

“Dan kau terjatuh tepat didepan pria tampan!”

“Oke, mari kita masuk. Karena aku sudah tidak sabar.”

Kesan pertama yang bisa lihat adalah semuanya terlihat cukup rapih dan tidak menakutkan seperti yang ia pikirkan sebelumnya, mungkin saja seseorang menodongkan pistolnya atau lebih buruk dari yang ia pikirkan.

“Selamat malam nona.”

Seseorang menghampiri so eun, seorang wanita bertubuh tinggi, langsing dan cantik dengan rambut di ikat dan pakaian yang rapih. So eun berpikir Apa ia tidak salah melihatnya berada di kantor kepolisian?

“ah ya, selamat malam.”

“Anda Dr. kim so eun?”

“ya,”

“Aku Yuri, Mari Ku tunjukan ruang diskusinya.”

So eun mengangguk dan memandang yoona.

“temui aku di lobi setelah selesai, oke?” ucap yoona.

“ya.”

Stelah itu so eun di ajak berkeliling untuk menemui rekan barunya di ruang diskusi yang Yuri sebutkan tadi, dan So eun sempat ragu bahwa ia akan terasingkan di tempat asing ini. Karena sesungguhnya so eun benci perkenalan.

“Masuk saja, kepala tim akan segera menemui anda.” ucap Yuri.

“Ya, terima kasih” so eun mengangguk dan membuka pintu.

Dua orang telah berdiri disana sambil menyandar pada meja, dan mereka memandang so eun dari atas sampai bawah. Mereka tidak terlihat menakutkan dan so eun berusaha terlihat baik.

“Oh hai.” Mungkin so eun akan menganggap dirinya melambai tangan dan tersenyum seperti orang bodoh.

“Oh ini ternyata rekan baru kita, kemarilah!” ucap seorang lelaki bermata sipit, hidung mancung yang lurus berwajah tirus, yang bisa so eun simpulkan adalah dia seorang yang humoris.

“Kim so eun. So eun, kau bisa memanggilku.”

“Aku jung il woo, seorang detektif tampan dan ini rekan kerjaku Detektif jung so min.”

“Oh wow! Kau seorang detektif wanita!” So eun menampilkan raut wajah yang berbinar.

“Ya, tidak perlu terkejut begitu. Kau juga seorang ahli forensik yang masih muda!” balas so min.

“Ya, jadi mohon bimbinganya.” kata so eun penuh penekanan.

“Jadi berapa umur mu? Kau terlihat cukup muda. Dan kupikir pengganti dr. Lee sama tuanya.”

“Yeah tidak juga, tapi ya aku memang masih muda.” jawab so eun.

Tak beberapa lama seorang lelaki masuk, Il woo dan so min berdiri tegak dalam kebingungan so eun mengikuti apa yang mereka lakukan. So eun memandang pria itu dan matanya sedikit melebar karena terkejut. Pria itu, pria yang menemukan so eun diparkiran tadi namun sayang nya ia bukan yang menolong so eun, namun pria yang mengajak teman-temannya untuk meninggalkan dirinya.

“jadi apa yang harus kita diskusikan sekarang?” ia berucap.

“Ehm.” So eun merasa diacuhkan, jadi ia berusaha mengalihkan perhatian pria ini.

“Oh ada seorang yang baru disini? Jadi siapa dia?”

“Ini kim so eun, pengganti dr. Lee untuk beberapa waktu kedepan. Ia percayakan oleh dr. Hyojin untuk menggantikan tugas dr. Lee” il woo memperkenalkan so eun.

“Aku kim bum, kepala tim-ku sendiri.”

“Mohon kerjasamanya. Chief.” So eun menunduk.

“Jadi berapa umurmu? Apa orangtuamu memberimu izin bertugas eh?”

So eun sedikit mengerutkan keningnya tidak suka, ia sedikit tersinggung dan membuatnya sedikit tertangtang. “Anda terlalu mengkhawatirkanku chief. Wajahku cukup dewasa untuk melakukan sesuatu yang berbahaya.”

“Ya, sudah cukup dewasa untuk melakukan hal dewasa hm?”

“Ya, aku cukup mahir.”

“Aku meragukannya.”

“Aku bisa membuktikannya, Chief.”

“Buktikan padaku. Kau bisa berbicara padaku kapanpun kau ingin ‘melakukannya’.”

Oh! Pembicaraannya jadi sedikit tegang dan mungkin sedikit menyimpang.

“Oh ya, kita bisa melanjutkan pembicaraan inti eh? Mungkin Kalian bisa melanjutkannya di lain tempat.” Il woo berusaha mencairkan suasana. “Dan mungkin kau so eun, bisa juga membuktikannya padaku eh?”

“Apa yang kau bicarakan huh!” So min memukul kepala il woo dengan kesal.

“Baiklah.” Kim bum angakat bicara lagi. “Aku sudah mendapat surat izin bertugas dari kepala divisi kriminal untuk mengambil alih satuan tugas kasus ini. Dan kita bisa mulai menangai kasus ini besok. Aku sudah memberi arsipnya untuk dipelajari, dan kuharap kalian mengerti. Ada pertanyaan?”

“Tidak chief.” Il woo dan so min menjawab.

“kita akhiri diskusi ini, dan Kau Ikut kerunganku!”

Well, mau tak mau So eun harus melaksanakan perintah kim bum. Ia mengikuti intruksi dari kim bum, mengikutinya dari belakang. Kemudian duduk setelah kim bum memberi gestur untuk duduk.

“Biasanya aku menyeleksi orang yang tepat untuk menjadi anggota tim-ku, tapi kali ini aku mempercayai dr. Hyojin untuk memilih orang yang tepat.” Ucap kim bum sambil membaca sebuah arsip yang berada di genggaman tangannya. “Apa aku bisa mempercayaimu?” lanjutnya.

“Ya, tentu saja.”

“Dengan membuktikan’nya’ padaku eh?”

“Oh, jangan membuat jalur pembicaraan yang lain lagi, Chief.”
Kim bum sedikit tersenyum, detik berikutnya ia serius lagi. “Kau masih berada dibawah pengawasan dr. Hyojin. Ku pikir ini kali pertamamu bekerja di kepolisian eh?”

“Ya, anda benar. Jadi mohon bimbingannya.”

Ia tersenyum remeh. “Sejujurnya aku tidak suka menggurui dan ingin bekerja dengan orang yang sama Profesionalnya denganku.”

“Anda tidak mempercayaiku?”

“Tidak juga. Aku hanya belum mempercayaimu, itu saja.”

Kalau boleh terus terang, saat ini so eun merasa sesikit kesal dengan pria angkuh ini. Namun kim so eun harus bersikap baik jika rencananya mau berhasil karna bagaimanapun juga kim bum adalah atasannya sekarang.

✿ ✿ ✿ ✿ ✿

Hembusan angin menelusup masuk melewati jendela kamar yang terbuka, membuat gadis itu mengeratkan selimutnya untuk kesekian kalinya. Namun wajah manis itu tersentak saat deringan telepon menyadarkan so eun dari mimpi fantasi indahnya. Tepat pukul 4.00 pagi Dr. Hyojin menelponnya dan memintanya untuk segera bergegas menuju tempat pembunuhan yang baru. Dan so eun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan pertamanya sebagai seorang dokter forensik.

Ia segera bergegas dengan hanya mencuci muka dan menyambar jaket parasut hitam yang selalu ia kenakan. Kemudian melajukan mobilnya dengan sangat hati-hati di tengah salju yang tebal.

Hanya satu mobil polisi yang terlihat sudah terparkir disana, dan so eun segera bergegas keluar menuju apartemen yang dr. Hyojin beritahukan. Ini kali pertama seorang kim so eun mendatangi TKP seorang yang terbunuh dan itu membuat so eun sedikit gugup meskipun ia sudah mempelajari banyak hal dari bibi dan ayahnya namun ia masih saja merasa gugup.

Garis polisi menghalangi pintu kamar dan so eun melewatinya, namun seseorang menahanya. Pria bertubuh tinggi dan besar. “seorang wartawan belum diijinkan masuk.” katanya.

“Aku, salah satu tim forensik.” Aku so eun.

“Hm..?”

“Ijinkan dia masuk, ia tim forensikku yang baru.” ucap Dr. Hyojin.

“Pakai handskun dan maskermu.”

So eun mengangguk dan mulai memasuki area, sebuah kamar yang indah dipenuhi lampu kecil menggantung disetiap sudut dinding. Namun apa yang terlihat di dinding adala bercak darah dan tepat di kamar tersebut terdapat sosok tubuh wanita, berkulit putih, tubuh kurus, baju cele dan rok seatas lutut yang sedikit tersingkap keatas dengan mulut dan hidung mengeluarkan darah yang terlihat belum mengering. Kim so eun jadi merinding sendiri, wanita ini dibunuh dengan kekejaman yang mungkin tidak seharusnya dia terima.

So eun menelan ludah dan berusaha tenang, kemudian pandangannya beralih pada kim bum yang sedang berdiri menatapnya. So eun sempat berpikir bahwa kim bum tidak menyadari keberadaannya karena hanya dia seorang yang dari tadi mengabaikan dirinya.

“kau masih mengantuk eh?” Kata kim bum.

“eh?” So eun kebingungan.

“Sendal lucumu cocok sekali dengan kamar ini.”

Persekian detik so eun baru menyadari bahwa ia masih mengenakan sandal tidur bermotif kucing dengan bulu-bulu lebat yang hampir menutupi sebagian kaki putihnya. Beberapa orang polisi menahan tawa bahkan ada yang benar-benar menertawakan so eun, tapi dilihat darimanapun juga sandalnya memang terlihat lucu. Jadi apa salahnya?

“Ehm. Aku terlalu terburu-buru.” so ejn beralasan berusaha terlihat tennag. Dan kim bum kembali dengan pekerjaannya memilih mengabaikan perkataan so eun.

Kim so eun mulai memeriksa tubuh wanita ini, ia menulis beberapa hal yang penting dan mengambil beberapa gambar dengan kamera digital yang ia bawa. Ini adalah langkah awal pemeriksaan, selanjutnya so eun akan melakukan autopsi bersama tim forensik rumah sakit seoul sesuai perintah dari kepolisian-kim bum.

“Sisir kembali seluruh bagian tempat jangan ada yang tertinggal, dan amankan barang bukti segera.” perintah kim bum kepada bawahannya, aura ketegasannya sebagai pemimpin juga ikut keluar.

Kim bum menghampiri so eun “Segera setelah selesai otopsi berikan hasil visum-nya padaku.”

“Baik chief” jawab so eun.

Beberapa menit kemudian mulai banyak wartawan berdatangan, dan udara mulai terasa sesak. So eun berusaha menerobos para wartawan dan meninggalkan kamar, berusaha mengabaikan pertanyaan para jurnalis dengan senyuman manisnya. Dan beberapa terlihat memotret so eun.

‘Oh aku seperti orang penting saja!’

Seoul National Hospital

Setelah sampai diruang otopsi, So eun langsung berkutat dengan pisau bedah, darah, organ dalam, belah-membelah dan menjahit bagian tubuh korban. Tapi ini bukan kali pertama dirinya melakukan autopsi karena beberapa kali so eun ikut bibinya-Dr. Hyojin untuk melakukan otopsi, berhadapan dengan tubuh dingin akan menjadi kebiasaan so eun untuk beberapa waktu kedepan.

2 jam berlalu dan para tim forensik sudah dapat menyerahkan hasil visumnya pada kepolisian. Tepat pukul 8 pagi so eun sudah sampai di kantor polisi dan menemukan tidak ada seorangpun di ruang diskusi, jadi ia hanya duduk diam di meja kerja milik so min. Komputernya masih menyala, so eun berpikir so min tidak lama akan kembali. Dan suatu folder di dalan komputer itu menarik perhatiannya ‘Det. Kim so hyun’. ‘

Rasa penasaran so eun mulai menyeruak dan ia mulai tertarik, dan membuka folder di dalamnya ada beberapa nama folder lagi. So eun memilih salah satunya dengan nama ‘Tempat kejadian’ kemudian terbukalah foto-foto yang tidak asing dimata so eun. Sesuatu membuat hatinya bergetar, ia melihat foto ayahnya yang tergeletak di lokasi kejadian yang ia tahu adalah lab rumah sakit. Sungguh, ayahnya terlihat sangat buruk dan mungkin merasakan kesakitan yang teramat sakit sebelum ia meninggal. Dan hati so eun terasa semakin teriris.

Dengan rasa penasaran yang luar biasa so eun terus membuka beberapa foto, meskipun membuat hatinya sakit tapi so eun tetap merasa penasaran.

“Siapa yang memberimu izin menjadi seorang penguntit?”

Hampir saja so eun melompat dan terkejut luar biasa melihat kim bum sudah berada di hadapannya sambil menatapnya dengan tatapan elangnya itu. So eun berusaha tenang, “Oh hai!”

“Menjauh dari komputer sekarang juga, atau aku akan mencabut izin kerja rekanmu.” Ucap kim bum.

“Aku hanya sekedar melihat.” So eun melompat dari kursi dan beralasan.

Kemudian kim bum duduk di kursi kerja milik so min dan memandang komputernya. Lalu menyandarkan dagunya di atas tumpuan tangannya, “Apa yang kau caru huh? Ini kasus lama yang sudah di tutup.”

“Kau menangani kasus tersebut?” tanya so eun penasaran.

“Tidak, Det. Yoojin yang menangani kasus ini.”

“Bukankah kasusnya belum sepenuhnya berakhir, lalu kenapa menutup kasusnya?”

“Aku tak tahu. Ini bukan urusanku.”

Dan apa yang So eun lihat adalah dia menghapus beberapa folder termasuk folder kasus kematian Det. Kim so hyun.

“Hey! Kau menghapusnya! Itu file yang penting!”

Kim bum beralih memandang so eun. “Semua file yang kuhapus kasusnya sudah di tutup, jadi untuk apa kau ketahui lagi?”

So eun terdiam dan ia bingung untuk menjawab, apa ia harus memberitahunya bahwa Det. Kim so hyun adalah ayahnya.

‘Oh ini belum waktunya!’

“Dengar baik-baik Dr. Kim, kau tidak di perkenankan untuk menguntit ataupun mencari tahu sebuah berkas tanpa seizinku. Dan itu adalah salah satu aturan tidak tertulisku untuk bawahanku, selama kau masih berada di timku kau hanya harus melakukan sesuatu atas apa yang aku perintahkan. Jadi kau mengerti Kim so eun?”

“Keuntungan apa yang akan kudapatkan?”

“Keselamatanmu.”

“Huh? Apa hubungannya? Ini tidak adil untukku!” Suara so eun meninggi. “Maksudku, ya. aku juga termasuk dalam tim mu. Aku punya hak bukan?”

“Aku belum benar-benar memperkerjakanmu, Kau masih dalam percobaan.”

“Tidak ada yang memberi tahuku soal percobaan ini.”

“Ya. Itu atas kemauanku sendiri. Aku punya aturan tersendiri untuk anak buahku.”

“Tapi..”

“Ya, cukup bertindak sesuai perintahku kau akan lulus.”

Kim bum beranjak dan menganmbil dokumen hasil visum yang so eun bawa tadi. Dan ia berlalu meninggalkan so eun dengan perasaan kesal. Oh ini akan sulit bagi So eun.

Well setidaknya ia harus bekerja lebih keras lagi.

To be continued……

Yoshhhh! Part 1 selesai juga, jadi segeralah tinggalkan komentar kalian setelah membaca, karena komentar kalian akan sangat membangun semangat author 😀 Mueheheheh kalo bisa sekalian pendapat dan kritik yang membangun yah jngn yg menjatuhkan :v

Chapter2 selanjutnya sudah ada tinggal di posting dan tinggal nunggu komentar kalian di chapter ini :p

Oke deh see you guys!

Iklan

8 respons untuk ‘Hidden detective chapter #1

  1. q jd pnsran… ap pnybab kmtian ayah’y sso eonni? n spa plku tndkan pmbnuhn tsb?
    q msh blm mngrt blum… mgkin krn q ga fkus bgt bca’y jd msh rda”…
    tp mnrik…

  2. knp bumpa jd org yg mnutypi kasua apa bumpa ada hubnya dgn org mmbunuh atau bumpa yg ngbunuh. aku sk artis yg jd bapaknya sso sangat cocok msh muda haha.. sso kn cntik adh sharsnya bapaknya jg tampn gak hrs yg tua2 trus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s